Sabtu, 09 Juni 2012

Tergoda Mona

Sebut saja namaku Setio, usiaku 32 tahun, sudah empat tahun perkawinanku tapi seorang anak belum kami dapatkan. Karena cintaku pada istriku, tidak ada niat untukku berselingkuh, tapi sejak perkenalanku dengan wanita itu, aku tergoda untuk selingkuh. Perkenalanku dengan wanita itu berawal 2 tahun yang lalu, saat kakak istriku mau menikah, kami mengunjungi rumah calon mempelai wanita untuk melamar, aku melihat seorang wanita berumur kira-kira 30 tahunan yang kutahu dia adalah istri dari kakak calon pengantin wanita, dan kutahu kemudian namanya Mona, karena kami sama-sama panitia perkawinan iparku.
Awalnya kuanggap biasa perkenalan ini, tetapi pada waktu hari perkawinan iparku, aku terpana melihat kecantikan Mona yang memakai baju kebaya bordiran, sehingga lekuk tubuh dan bentuk payudaranya terbayang ditutupi kemben (pakaian kain Jawa) hitam yang membuatku ingin sekali melirik kemana perginya Mona dan membayangkannya di saat Mona telanjang.

Setelah acara pernikahan itu selesai, otomatis kami jarang sekali bertemu, karena Mona harus menemani suaminya yang tugas di Surabaya. Hampir satu tahun lamanya aku ingin melupakan dirinya, tetapi ketika iparku memiliki anak, aku bertemu lagi dengan Mona pada waktu menengok bayi. Saat itu Mona mengenakan baju dan jeans ketat, sehingga lekuk tubuhnya membayangi lagi pikiranku yang terbawa hingga kutidur.

Sebulan kemudian, ketika acara syukuran bayi iparku, Mona datang dengan suaminya dan ibunya Mona yang duduk di kursi roda akibat sakit stroke yang katanya sudah 4 tahun diderita. Dan dari iparku, kuketahui Mona sekarang satu bulan di Jakarta untuk menjaga ibunya dan satu minggu menemani suaminya di Surabaya.
Seminggu setelah itu, temanku datang ke rumah untuk menawarkan bisnis “MLM” berbasis food suplement yang dapat membuat beberapa penyakit sembuh. Langsung pikiranku tertuju kepada ibunya Mona. Setelah dapat nomor telpon Mona dari iparku, aku langsung menghubunginya. Setelah obrolan kami, Mona setuju untuk mencobanya terlebih dahulu. Keesokan harinya, ketika aku mengantar obat itu, aku berharap bisa ketemu Mona, tapi karena ibunya sedang anval, otomatis aku hanya bertemu pembantunya.
Satu minggu kemudian, tiba-tiba HP-ku berdering, sebenarnya aku malas menerimanya karena nomor yang tertera tidak kukenal, tapi dengan agak malas kuterima juga telpon itu yang rupanya dari Mona.
”Mas.. Setio, ya..? Disini Mona.”
"Eh.. iya Mona.. apa khabar..?”
"Wah.., Mas.. saya senang loh kayaknya obat yang Mas kirim buat ibu bagus sekali, ibu sekarang sudah nggak pakai kursi roda lagi.. kalau begitu Mona pesan lagi yach..? Kapan bisa kirim..?”
"Selamet deh Mona… eng.. kalau begitu besok siang deh.. Mona.. saya kirim ke rumah..!”
"Ya.. sudah.. sampai besok yach..!”
Keesokannya, pukul 11:00 aku ke rumah Mona. Ketika sampai, aku disuruh menunggu oleh pembantunya di ruangan yang sepertinya ruang perpustakaan. Tidak lama kemudian Mona muncul dari pintu yang lain dari tempat kumasuk ruangan itu. Saat itu Mona mengenakan baju model jubah mandi yang panjang dengan tali di pinggangnya, dan mempersilakan aku duduk di sofa yang dia pun ikut duduk, sehingga kami berhadapan. Ketika dia duduk, satu kakinya disilangkan ke kaki yang lain, sehingga betisnya yang bunting padi dan putih bersih terlihat olehku, membuat pikiran kotorku kepada Mona muncul lagi.
Kami mengobrol panjang lebar, Mona menanyakan hal tentang perkawinanku yang sudah 4 tahun tetapi belum dikaruniai keturunan, sedangkan dia menceritakan bahwa sebenarnya Mona menikah disaat suaminya telah mempunyai anak yang sekarang sudah kuliah. Setelah hampir satu jam kami mengobrol, Mona mengatakan rahasia kehidupannya padaku bahwa ia tak pernah bahagia sebagai istri. Mona belum pernah merasakan orgasme, suaminya selalu meninggalkan dirinya dan membiarkan dia masih menggantung.
”Oh.. ya berapa nih harga obatnya..?”
"Ah.. sudah Mona, nggak usah, gratis kok, tujuan saya khan yang penting Ibu bisa baik.”
"Ah.. nggak lah Mas, Mona ambil dulu yach uangnya di kamar.”
Mona berdiri dan masuk ke pintu tempat tadi dia datang, tapi pintu itu dibiarkannya terbuka, sehingga kulihat kalau kamar di sebelah ruang kududuki adalah kamar tidur Mona. Dari dalam dia teriak ke arahku menanyakan harganya sambil memanggilku.
”Mas.. Setio, berapa sih harganya..? Kamu sini deh..!”Dengan agak ragu karena perasaanku tidak enak masuk kamar orang lain, kuhampiri juga Mona.
Begitu sampai di pintu, aku seperti melihat suatu mukjizat, dan tiba-tiba perasaanku terhadap Mona yang pernah ada dalam pikiranku muncul. Mona berdiri di samping tempat tidurnya dengan jubah yang dipakainya telah tergeletak di bawah kakinya. Aku melihat tanpa berkedip tubuh Mona yang sedang berdiri telanjang dada dan pangkal pahanya tertutup celana dalam berwarna pink memperlihatkan sekumpulan bulu hitam di tengah-tengahnya.
”Mas, kalau kamu nggak mau dibayar sama uang, sama nafsu Mona aja yach..? Kamu mau khan..?”
"E.. e.. eng.. bb… boleh deh Mona..!”
Tiba-tiba kali ini aku bisa melihat Mona yang setengah bugil dan memohon kepadaku untuk melayani nafsunya, kuhampiri dia sambil menutup pintu. Bentuk tubuh Mona sungguh indah di mataku, kulitnya putih bersih, payudara yang berukuran 36B berdiri dengan tegaknya seakan menantangku, lekukan paha dan kaki jenjangnya yang indah dan betisnya yang bunting padi, persis bentuk tubuhnya penyanyi Jennifer Lopez. Aku seakan tidak bisa menelan ludahku karena Mona sekarang tepat berdiri di depanku.
“Mas.. Setio, layani Mona yach..! Soalnya sudah dua bulan Mona tidak dijamah..”
"Iya.. Mona, ta.. tapi.. kalau anak-anak Mona datang gimana..?”
"Anak-anak kalau pulang jam 5:00 sore, lagi itu kan anak-anaknya Suamiku.”
"Ok.. deh Mona, Mona tau nggak, kalau hal ini sudah saya impikan sejak pernikahan Desi, soalnya Mona seksi banget sih waktu itu.”
"Sekarang.. sudah nggak seksi dong..?”
"Oh… masih.. apa lagi sekarang, Mona kelihatan lebih seksi.”
Bibir tipisnya mencium bibirku dengan hangat, sesekali lidahnya dimainkan di mulutku, aku pun membalasnya dengan lidahku. Tangan lembutnya mulai melepaskan dasi dan bajuku hingga kami sama-sama telanjang bagian atasnya. Dada bidangku mulai diciumi dengan nafsunya, sementara lehernya dan pundaknya kuciumi. Wangi tubuhnya membuat nafsuku juga meningkat, sehingga batangku mulai mengeras mendesak celana dalamku. Tangannya mengelus celanaku di bagian batangku yang sudah mengeras, sedangkan aku mulai memainkan mulutku di payudaranya yang terbungkus kulit putih bersih, putingnya yang putih kemerahan sudah jadi bulan-bulanan lidah dan gigiku, kugigit dan kusedot, sehingga Mona mengelinjang dan makin keras tangannya mencengkram batangku.
Celana panjangku mulai dibuka dengan tangan kirinya, lalu celana dalamku ditarik turun sehingga batangku sudah dipegang tangan halusnya dan mulai mengocok batangku.
”Mas… batangmu besar sekali yach..? Kalau punya suamiku paling setengahnya aja, berapa sih besarnya..?”
"Kalau panjangnya 20 cm, kalau diameternya 4 cm.”
"Wah.. gede banget yach… pasti Mona puas deh.., boleh Mona isap nggak..”Aku hanya mengangguk,
Mona langsung jongkok di hadapanku, batangku dipegangnya lalu dimainkan lidahnya pada kepala batangku, membuatku agak gelisah keenakan. Batangku yang besar berusaha dimasukkan ke dalam mulut mungilnya, tetapi tidak bisa, akhirnya kepala batangku digigit mulut mungilnya.
Kira-kira 15 menit, dia berdiri setelah kelelahan mengulum batangku, lalu dia merebahkan dirinya di sisi tempat tidur. Kali ini aku yang jongkok tepat di sisi kedua kakinya, tangan kananku melepaskan celana dalam pinknya, saat itu juga aroma wangi langsung bertebaran di ruangan yang rupanya aroma itu adalah aroma dari vagina Mona yang bentuknya sangat indah ditutupi bulu-bulu halus di sekitar liang vaginanya.
”Ah.. Mon.. vagina Mona harum sekali, boleh saya jilatin..?”
"Ah.. jangan Mas… kamu nggak jijik? soalnya suami ngga pernah menjilatinya.”
"Wah.. suamimu payah … vagina itu paling enak kalau dijilatin, mau yach.. Mona… enak.. kok..!”
"Iya deh… kalau kamu nggak jijik.”
Paha putihnya sudah kuusap lembut dengan tangan kiriku, sementara jari tengah tangan kananku mulai menjamah liang vaginanya. Kulihat Mona melirik ke arahku sambil berkata,
“Mas… jilatnya yang enak yah..!” Aku hanya mengangguk sambil mulai kutempelkan lidahku pada liang vaginanya yang rupanya selain wangi rasanya pun khas vagina, membuatku semakin bernafsu untuk menjilatinya, sementara kulirik Mona sedang merasakan geli-geli keenakan.
”Ah… ah… ssh.. argh… iya.. yach.. Mas.. enak deh rasanya.. wah kalau gini.. besok-besok mainnya sama Mas Setio aja deh… sama suami… ntar-ntar deh.. abis… enak.. banget.. sih.. Mas Setio mau khan..? Ah.. argh..!”
Aku tidak menjawab karena lidahku sudah menemukan biji klitoris yang membuat Mona menggelinjang. Sehingga makin cepat kujilati. Mona semakin menggelinjang tidak karuan, sementara tangannya menekan kepalaku yang seakan dia tidak mau kalau kulepaskan lidahku dari biji klitorisnya. Hampir 30 menit klitoris itu kujilati ketika tiba-tiba tubuh Mona mengejang-ngejang, dan dari klitoris itu mengalir deras cairan putih bersih, kental dan Mona pun mendesah dan langsung tubuhnya lemas.
“Argh.. argh… agh.. ssh… sshh.. eeegh.. eegh.. Mas.. Setio.. enak… buangget.. deh.. kamu.. pintar… membuat.. Mona.. keluar.. yang belum pernah Mona.. keluarin dengan cara begini… kamu.. hebat deh, agh.. agh..!”Kuubah posisi Mona, kali ini kakinya terjuntai ke bawah, lalu kuposisikan batangku tepat di liang kemaluannya yang masih agak basah. Dengan jariku, kurenggangkan liang vaginanya, lalu dengan sedikit hentakan, batang kejantananku kudorong masuk, tapi agaknya vagina itu masih agak sempit, mungkin karena batangku yang besar. Kucoba lagi hingga 5 kali tapi belum bisa masuk.
“Mona… Vagina mu.. sempit.. yach.. padahal saya sudah tekan berkali-kali..”
"Iya.. Mas… mungkin karena belum pernah melahirkan.. yach.. tapi tekan.. aja terus… biar batang Mas.. masuk.. nggak apa-apa kok.. kalau sampai vagina saya robek…”Kucoba lagi batangku kutekan ke dalam vagina Mona. Akhirnya setelah 15 kali, Mona menjerit keenakan, masuklah batang kejantananku yang super besar itu merobek liang kewanitaannya.
“Ooowww… argh.. argh.. gila… hegk.. hegk.. gede… banget.. sich.. Mas batangmu rasanya nembus ke perut Mona nich… tapi.. enak.. banget dech.. trus.. Mas.. trus.. tekannya.. argh.. argh..!” desahnya tidak menentu.Kulihat Mona berceracau sambil dengan perutnya berusaha menahan batangku yang masuk lubang kenikmatannya. Kutekan keluar masuk batangku pada vaginanya berkali-kali, tangannya memegang perutku berusaha menahan tekanan batangku pada vaginanya. Tanganku mulai meremas-remas payudaranya, kupelintir putingnya dengan jariku.
Hampir satu jam Mona melawan permainanku. Tiba-tiba tubuh mona menggelinjang dengan hebatnya, kakinya disepak-sepak seperti pemain bola dan keluarlah cairan dari vaginanya yang membasahi batangku yang masih terjepit di liang senggamanya. Cairan itu terus mengalir, sehingga meluber keluar membuat pahaku dan pahanya basah, tetapi aku belum merasakan apa-apa. Yang kukagetkan adalah ketika kulirik cairan yang mambasahi paha kami ada tetesan darahnya, aku berpikir bahwa selama ini Mona pasti masih perawan walau sudah berkali-kali main dengan suaminya.
Kulihat tubuh Mona langsung tergolek loyo, “Argh.. arghh.. ssh.. aaawww.. oohhh.. Mas Setio… kamu.. e.. emang.. hebat..! Batangmu… yahud. Aku benar-benar puas.. aku.. sudah.. keluar. Besok.. besok.. aku hanya.. mau… memekku.. dihujam.. punyamu.. saja. Ah.. arghh.. ah.. ah.. ah.. ah..!”Badan Mona langsung kuputar hingga kali ini dia tengkurap, pantatnya yang dibungkus kulitnya yang putih bersih dengan bentuk yang padat dan sexy, membuat nafsuku bertambah besar. Kuangkat sedikit pantatnya supaya agak menungging dan terlihatlah vagina yang tersembunyi di balik badannya. Aku agak menunduk sedikit, sehingga memudahkan lidahku memainkan liang kemaluannya untuk menjilati sisa-sisa cairan yang baru saja dikeluarkan oleh Mona.
Setelah itu, kutempelkan lagi batang keperkasaanku pada liang senggamanya. Karena tadi Mona sudah orgasme, jadi liang kemaluannya sedikit lebih lebar dan memudahkanku dalam menekan batang kejantananku untuk masuk ke lubangnya Mona. Jleb… bless.. jleb… bless… ah… ah.. sedapnya.. memek… istri kakak iparku.. … ah.. Aku memasukkan batang kejantananku ke liang Mona dengan berceracau, karena liang senggama Mona sangat sedap sekali rasanya. Sementara kulihat Mona tidak merasa kesakitan seperti tadi, dia sudah bisa mengimbangi batang kejantananku keluar masuk liangnya dengan lembut, sehingga aku pun menikmatinya. Hal itu berlangsung satu jam lamanya. Tiba-tiba Mona menjerit kecil dan dia mengatakan bahwa dia mau mencapai orgasme yang kedua kalinya, dan meneteslah cairan kental lagi dari liang kewanitaan Mona yang membasahi batang kemaluanku.
“Agh.. agh.. aaawww.. arghh.. sshh.. Mas.. Se.. Setio ka.. kamu memang… he.. hebat..! Mona sampai dua.. kali.. keluar.., tapi… kamu.. masih tegar… argh.. sshhh..!”
"Ah.. Mona… saya juga sudah.. mau keluar… saya.. mau… keluarin.. di luar.. ya… agh..!”
"Jangan.. Mas Setio… keluarin.. aja.. di dalam… memek.. Mona…. Mona… mau.. coba… air.. mani… Mas… Setio. Siapa tahu nanti.. Mona bisa.. hamil.. Keluar di dalam… yach.. Mas..!” Mona merengek meminta untuk air maniku dikeluarkan di dalam vaginanya, sebenarnya aku agak bingung atas permintaannya, tetapi setelah kupikir, aku dan Mona menginginkan seorang keturunan. Akhirnya kulepas cairan maniku ke liang senggamanya dengan sedikit pengharapan.
“Crot… crot.. serr.. serrr.. agh… aghr.. agh.. Mona… memek Mona memang.. luar biasa… argh.. argh..!”
"Ahhh.. ahhh.. Mas… air mani.. kamu… hangat.. sekali.. ahhh… Mona.. jadi segar.. rasanya..!”Cairanku dengan derasnya membasahi lubang kemaluan Mona, sehingga agak meluber dan rupanya Mona menyukai air maniku yang hangat. Akhirnya kami pun ambruk dan langsung tertidur berpelukan.
Aku terbangun dari tidurku ketika batangku sedang dihisap dan dijilat Mona untuk mengeringkan sisa air maniku, jam pun sudah menunjukkan waktu 4:30. Aku berpikir bahwa hampir 3 jam aku dan Mona berburu nafsu birahi.
”Mas Setio, terima kasih yach..! Mona puasss deh sama permainan seks kamu… Kamu lebih hebat dari suami saya. Kapan kita bisa main lagi..? Mona pingin main lagi kapan-kapan…”
"Iya Mona, besok pun juga boleh. Habis saya juga puas. Mona bisa mewujudkan mimpi saya selama ini, yaitu menikmati tubuh Mona dan Mona luar biasa melayani saya hampir tiga jam. Wahh, Mona memang luar biasaa…”
"Iya.., kamu pun hebat, Mas Setio. Saya suka sekali ketika batangmu menghujam memek saya. Terlebih air mani kamu, hangggattt.. sekali. Besok kita bisa main lagi khan..?”
"Iya… sayangku. Sekarang kita bersih-bersih, nanti anak dan suamimu datang..!”
Kukecup bibir Mona yang setelah itu kami membersihkan badan kami bersamaan. Di kamar mandi, Mona sekali lagi kusodok liang senggamanya sewaktu bershower ria. Setelah itu, hampir setiap hari aku bertemu Mona untuk memburu nafsu birahi lagi. Hingga sekarang sudah berlangsung 3 bulan lebih lamanya, dan yang agak menyejukkan hati kami berdua bahwa sejak sebulan lalu, Mona dinyatakan hamil.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar